Bahayanya Bahan Pemanis pada Kesehatan

Pemanis adalah zat yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman yang berfungsi untuk memberi rasa manis pada makanan. Hampir semua makanan dan minuman mempunyai rasa manis. Sebagai contoh kue, roti, permen, sirup, dan minuman ringan. Rasa manis memang memberi kenikmatan tersendiri.

Pemanis alami biasa digunakan sehari-hari adalah gula tebu (gula pasir) dan gula merah. Gula tebu tergolong karbohidrat dan mempunyai nilai kalori yang tinggi. Gula dicerna di dalam tubuh, untuk kemudian diubah menjadi kalori (energi). Kalori yang berlebihan akan disimpan di dalam tubuh sebagai lemak. Kelebihan kalori dalam tubuh dapat menyebabkan obesitas (kelebihan berat badan).

Beberapa produk minuman bersoda menggunakan gula sebagai pemanisnya.

 

Di negara-negara maju, obesitas telah menjadi masalah besar. Obesitas dapat dihindari dengan mengkonsumsi makanan yang nilai kalorinya rendah. Salah satu cara untuk mengurangi tingginya nilai kalori pada makanan dilakukan dengan mengganti gula dengan pemanis sintetis (buatan).

Pada umumnya, pemanis sintetis mempunyai nilai kalori yang rendah atau tidak mengandung kalori sama sekali. Pemanis sintetis digunakan dalam permen, es krim, minuman ringan, saus, dan sebagainya. Pemanis sintetis juga digunakan dalam diet penderita diabetes. Beberapa contoh pemanis sintetis antara lain : sakarin, siklamat, aspartam, asesulfam, sorbitol, dan gliserol. Tingkat kemanisan relatif dari berbagai bahan pemanis dapat ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

 

Tingkat Kemanisan Relatif dari Berbagai Bahan Pemanis
Nama Zat Kemanisan Relatif*
Sukrosa (gula tebu) 100
Laktosa (gula susu) 16
Glukosa (gula darah) 74
Fruktosa (gula buah) 7.900
Siklamat 3.000
Sakarin 50.000
Aspartam 18.000
Asesulfam K 20.000
P-4000 400.000

 

P-4000 adalah zat paling manis yang pernah dibuat, tetapi tidak digunakan sebagai pemanis karena mempunyai efek toksin (racun). Di Amerika Serikat, siklamat telah dilarang sejak 1970. Larangan tersebut diberlakukan karena siklamat menyebabkan kanker pada binatang percobaan. Walaupun penelitian lebih lanjut gagal menunjukkan hubungan siklamat dengan kanker, larangan tersebut tidak pernah dicabut. Pada tahun 1977, juga ditemukan bahwa sakarin ternyata dapat menimbulkan kanker pada binatang percobaan. Akan tetapi, sakarin tidak dilarang penggunaannya, karena pada masa itu, sakarin merupakan satu-satunya pemanis sintetis yang tersedia. Pada tahun 1981, ditemukan aspartam, suatu pemanis sintetis dan asesulfam telah menggeser penggunaan sakarin. Asesulfam tahan terhadap suhu tinggi, sedangkan aspartam tidak. Aspartam sekitar 180 kali lebih manis dari gula tebu, tetapi nilai kalorinya hanya 1/160 dari gula tebu. Aspartam digunakan sebagai pemanis dalam permen dan berbagai jenis makanan olahan, tetapi tidak digunakan dalam minuman ringan. Aspartam kehilangan rasa manisnya jika disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.