FPI Oh FPI..

Saya kira dengan membaca judulnya saja, Anda bisa mengira-ngira apa yang bakalan saya tulis di sini. Apakah isinya tentang sisi positif FPI atau malah sisi negatifnya? Sebenarnya sudah lama saya ingin mengulas dan “curhat” tentang apa yang saya rasakan tentang ormas Islam satu ini. Saya kira tidak ada yang salah jika saya menulis opini sebebas-bebasnya dengan tetap memperhatikan aturan berpendapat dan beropini yang diizinkan di negeri ini. Kalau bukan di blog saya sendiri, di mana lagi saya bebas “bersuara”?

Ada baiknya kita mengetahui dulu apa itu FPI. FPI (Front Pembela Islam) adalah sebuah organisasi massa Islam yang berpusat di Jakarta dan diketuai oleh Habib Muhammad Rizieq Shihab. Selain beberapa kelompok internal yang disebut oleh FPI sebagai sayap juang, FPI juga memiliki kelompok Laskar Pembela Islam (LPI), kelompok paramiliter yang kontroversial karena melakukan aksi-aksi “penertiban” (sweeping) terhadap kegiatan-kegiatan yang dianggap maksiat atau bertentangan dengan syariat Islam terutama pada masa Ramadhan dan seringkali berujung pada kekerasan.

Oh ya, agar tidak bosan baca teks melulu, saya sisipkan foto setiap orang yang saya sebutkan di sini. Perhatikan wajah, mata dan alisnya. Anda sendiri tentu bisa menebak-nebak bagaimana karakter orang tersebut.

habib-rizieq

habib-rizieq-syihab

habib-rizieq2-130722b(3 foto di atas adalah pendiri FPI sekaligus Ketua Umum FPI saat ini : Habib Muhammad Rizieq Shihab)

 

Kita lihat yuk apa visi dan misi ormas ini. Langsung saya copy-paste aja deh dari salah satu blog pendukung FPI :

“Sesuai dengan latar belakang pendiriannya, maka FPI mempunyai sudut pandang yang menjadi kerangka berfikir organisasi ( visi ), bahwa penegakan amar ma´ruf nahi munkar adalah satu-satunya solusi untuk menjauh-kan kezholiman dan kemunkaran. Tanpa penegakan amar ma´ruf nahi munkar, mustahil kezholiman dan kemunkaran akan sirna dari kehidupan umat manusia di dunia.

FPI bermaksud menegakkan amar ma´ruf nahi munkar secara káffah di segenap sektor kehidupan, dengan tujuan menciptakan umat sholihat yang hidup dalam baldah thoyyibah dengan limpahan keberkahan dan keridhoan Allah ´Azza wa Jalla. Insya Allah. Inilah misi FPI.

Jadi, Visi Misi FPI adalah penegakan amar ma´ruf nahi munkar untuk penerapan Syari´at Islam secara káffah.”

 

Jujur, saya agak sedikit pusing membacanya karena terlalu banyak istilah Islam yang digunakan. Tapi inti yang saya dapat dari kutipan di atas adalah menegakkan syariat-syariat umat Islam di Indonesia, menjauhkan diri dari hal yang tidak benar (tapi seperti apa persisnya saya tidak tahu).

Well, dari sini sepertinya cukup positif ya visi dan misinya. Saya sendiri mendukung FPI kalau memang seperti ini tujuannya. Tapi bagaimanakah fakta di lapangan yang terjadi? Simak ulasan berikut ini.

 

1.  Insiden Monas

Insiden Monas adalah istilah yang digunakan oleh media dalam laporannya mengenai serangan yang terjadi pada aksi yang dilakukan oleh “Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan” (AKKBB) di Monas pada 1 Juni 2008, tepat pada hari kelahiran Pancasila. Insiden ini bermula ketika AKKBB akan menggelar aksi di Monas, Jakarta, pada 1 Juni 2008 namun belum lama aksi dimulai, kumpulan masa AKKBB diserang oleh masa beratribut FPI. Massa FPI memukuli anggota Aliansi Kebangsaan dengan berbagai cara, anggota FPI tak berhenti menyerang mereka juga menghancurkan peralatan pengeras suara, merusak dan membakar spanduk. Tercatat 14 orang terluka dan sembilan di antaranya dirujuk ke rumah sakit.

Munarman sebagai ketua Laskar Islam menyatakan bahwa penyerangan itu dilakukan karena aksi ini merupakan aksi kelompok pendukung Ahmadiyah, dan bukan untuk peringatan hari Pancasila. Munarman juga mengkoreksi pemberitaan media yang melibatkan FPI sebagai pelaku, dan menyatakan bahwa penyerangan itu dilakukan oleh Komando Laskar Islam. Ketua Forum Umat Muslim, Mashadi, juga menunjukkan video yang diklaim sebagai provokasi kepada pihak FPI dan menyebabkan FPI menyerang AKKBB. Video tersebut berisi gambar seorang peserta aksi yang diduga kelompok aliansi akan mengeluarkan senjata, namun tak jelas bentuknya.

68964_620164683_620(dua foto di atas adalah Munarman)

2.  Kekerasan FPI terhadap wanita (Oming)

Ni Nyoman Aisanya Wibhuti atau yang dipanggil Oming merupakan anggota dari National Integration Movement (NIM) atau Gerakan Integrasi Nasional. Wanita ini menjadi korban pada peristiwa Monas 1 Juni 2008 yang dipukul oleh FPI.

Tetapi FPI berkali-kali menyangkal bahwa telah melakukan kekerasan kepada wanita. Video ini dibuat agar masyarakat tahu informasi yang sebenarnya. Korban sendiri yang bersaksi melalui video ini sekaligus untuk memberi kesadaran kepada masyarakat bahwa kekerasan bukanlah sebuah solusi. Kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Simak videonya berikut ini.

 

3.  Kekerasan FPI terhadap wanita (Isti)

Istiqomah Hastari, seorang wanita, partisipan dari Gerakan Islam Anti Kekerasan (Gema Istisan) atau Islamic Movement for Non Violence (IMN) menjadi korban penganiayaan aktivis FPI di ruang pengadilan Jakarta Pusat pada tanggal 28 Agustus 2008.

Mereka (FPI) menyangkal perbuatan tersebut padahal videonya dengan jelas memperlihatkan adegan penganiayaan tersebut. Ucapan mereka sangat tidak sesuai dengan prilaku yang diperlihatkan.

Banyak aparat kepolisian yang melihat dan seperti mendiamkan saja kejadian tersebut. Pelakunya sama sekali tidak ditangkap. Ini karena kita semua diam dan tidak perduli. Sikap kita inilah yang membuat aparat kita mendiamkan kejadian ini.

Semoga dengan video ini, masyarakat dapat melihat kejadian sesungguhnya dan sadar untuk kemudian bersama-sama bersuara, bertindak melawan kekerasan atas nama apapun.

 

4.  Kesaksian para perempuan korban kebiadaban FPI

KabarIndonesia – Para korban perempuan kebiadaban FPI, antara lain Ni Wayan Sukmawati dan Ni Komang Ainisyah Wiputi mengalami trauma berat karena tindakan biadab FPI  dalam peringatan hari lahir Pancasila ke-63 pada 1 Juni 2008 di Monas.

Selain itu mereka juga merasa dilecehkan harkat dan martabatnya sebagai perempuan dan Ibu  jika mengingat tindak penyerangan tersebut.

Ni Komang Ainisyah menuturkan bagaimana massa FPI menyerang dengan beringas sekali. Padahal sebagian besar peserta aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) adalah perempuan dan anak-anak.

“Awalnya didorong-dorong dari belakang. Tapi lama-kelamaan, mereka (masa penyerang dari Front Pembela Islam/FPI) mengarahkan pukulan ke kepala saya berkali-kali,” papar  Komang Ainisyah dalam acara testimoni korban kekerasan insiden Monas berdarah-Pancasila terluka di Denpasar pada hari Jumat (13/6).

Akibat kekerasan tersebut, Komang Ainisyah mengalami gagar otak yang dampaknya permanen. “Kadang-kadang, kepala saya masih pusing,” tuturnya.

Selain itu Komang Ainisyah mengaku trauma, misalnya kalau melihat tayangan televisi yang menggambarkan kekerasan di Monas, berdiri bulu romanya alias merinding.

Hal senada juga disampaikan oleh Ni Wayan Sukmawati. Kalau mengingat peristiwa di Monas, Sukmawati bahkan merasa dilecehkan. “Merasa terhina, karena saat peristiwa itu adalah Hari Kelahiran Pancasila yang seharusnya menjunjung nilai-nilai nasionalisme, bukan malah menodainya dengan darah sesama anak bangsa,” tutur Sukmawati.

Sukmawati mengaku kadang merasa kecewa dengan wacana publik yang berkembang saat ini, karena mengalihkan isu rusuh Monas ke isu agama. “Padahal, itu adalah sebuah upaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, bukan karena suatu agama,” tandasnya.

Sukmawati juga mengalami luka memar di sekujur tubuhnya akibat penyerangan di Monas. Ibu dua anak ini berharap segenap masyarakat untuk bersuara dan mengutuk keras setiap aksi yang menggunakan cara-cara barbarian di Indonesia tercinta ini.

Kenapa Komang Anisyah dan Sukmawati ada di Monas saat kerusuhan terjadi? Kedua perempuan Bali ini berada di Monas saat itu, karena mereka aktivis perempuan yang tergabung dalam National Integration Movement (NIM).

Komang Anisyah menjabat sebagai Bendahara NIM Pusat. Bersama Sukmawati, Komang Anisyah memegang peran penting dalam aksi damai peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas bersama AKKBB. Aksi yang dihadiri oleh 60 organisasi kemasyarakatan yang lintas suku, agama, ras, profesi,  dan golongan itu murni untuk membangkitkan rasa persatuan dan kerukunan bangsa dengan mengambil momentum hari kelahiran Pancasila yang notabene diamini sebagai dasar negara ini.

“Kami sepenuhnya mengedepankan semangat persatuan dan kerukunan bangsa yang dipelopori para pendiri bangsa tempo dulu. Tidak ada yang membiayai dengan kepentingan tertentu,” katanya dalam keterangan pers dipimpin oleh Dr. Sayoga selaku Direktur Eksekutif NIM.

Sesuai rencana, kata Maya Safira Muchtar selaku penggagas dan juga Ketua Umum National Integration Movement (NIM), acara testimoni serupa akan digelar  di Yogyakarta (14/6) dan daerah lainnya, agar masyarakat tahu kejadian yang sebenarnya di Monas pada 1 Juni 2008 tersebut. (Penulis : Nugroho Angkasa S.Pd)

 

5.  Insiden penyiraman air Munarman ke Tamrin Tomagola.

Insiden penyiraman air oleh Jubir FPI kepada sosiolog UI Tamrin Tomagola, terjadi karena pembicaraan Munarman sempat ditimpali oleh Tamrin. Munarman emosi dan menyiramkan gelas berisi teh manis ke wajah Tamrin.

Insiden itu terjadi sekitar pukul 07.45 WIB di Wisma Nusantara, Jakpus, Jumat (28/6/2013). Kala itu diskusi membahas pelarangan sweeping tempat hiburan malam. Selain sosiolog UI Tamrin Tomagola dan Jubir FPI Munarman, hadir juga Karopenmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar live dari Mabes Polri.

 

Nah, sekarang udah lihat sendiri kan bagaimana FPI itu adalah kelompok barbar?!

OK, tarik nafas panjang dulu. Jangan langsung emosi. Sekarang mari kita lihat dari sudut pandang yang lain. Saya akhir-akhir ini mencari data di internet, googling sana sini dan lihat video youtube yang menceritakan beberapa kebaikan FPI. Dalam dialog singkat yang saya lihat di youtube antara Ketua Umum FPI (Habib Muhammad Rizieq Shihab) dengan Jaya Suprana, Habib Rizieq mengklaim bahwa semua pemberitaan negatif tentang FPI adalah salahnya media. Karena media hanya mengekspos kekerasan dan tindakan anarkisnya saja. Padahal dalam pengakuan Rizieq, ketika tsunami Aceh 2004 lalu FPI membantu para korban dengan mengangkat mayat, ikut membantu mendirikan posko, memberikan bantuan baik moral atau barang. Bahkan ketika terjadi banjir (saya lupa di mana tempatnya), FPI mengirimkan beras. Nah, itu kok tidak diekspos media? Kenapa hanya sisi “barbar”nya saja yang diekspos?

Saya pribadi akan langsung menjawab masalah ini. Jawabannya adalah : INI SUDAH HUKUMNYA! MEMANG BEGITULAH MEDIA CARI BAHAN & TOPIK. Makanya jangan berbuat sesuatu yang “luar biasa” dan “mengagumkan” seperti kekerasan fisik. Jika Anda ingin tahu lebih lanjut apa yang saya maksudkan, silahkan klik link berikut :

http://www.nabawia.com/read/572/mengapa-fpi-anarkis

 

Nah, kesimpulannya FPI tidak perlu berdalih. Tidah usah mencari-cari alasan mengapa banyak masyarakat yang resah dan tidak menyukai ormas berkedok Islam ini. Menurut saya, FPI HARUS BUBAR! Organisasi ini bahkan tidak mampu memimpin dirinya sendiri. Jika kita bertanya kepada mereka (FPI) tentang adanya tindakan kekerasan/laporan yang barusan terjadi, pasti akan dijawab dengan gampang : OK, NANTI KITA CEK DULU. KITA TELITI DULU DATA-DATANYA. LALU KETIKA ORANG LAIN MEMBAWA BUKTI, MEREKA AKAN MENJAWAB : OH ITU KAN BELUM TENTU TERJADI. KITA CEK DULU.

Begitulah mereka dengan acuh tak acuh meresponnya. Seolah-olah semua kebenaran ada di tangan FPI. Ini SUNGGUH KETERLALUAN! Maksud saya yang keterlaluan di sini bukan FPI, karena mereka memang belum mampu menghormati hak-hak warga negara, dan bagaimana kita sebagaimana seorang warga negara yang baik, yang taat kepada hukum dan aturan yang berlaku. Yang keterlaluan menurut saya adalah : KITA, RAKYAT INDONESIA! KITA SUNGGUH KETERLALUAN! KOK  KITA BIARKAN MEREKA BERTINDAK SEPERTI ITU?! INI SUDAH TERLALU LAMA! SUDAH CUKUP! Persoalan dengan FPI bukan hanya sekedar masalah maksiat saja. Alibi mereka memang dari dulu hanya sekedar maksiat dan maksiat melulu. Dan saya ingin tahu, hasilnya apa? Sudah berapa yang bertobat? Sudah berapa yang insyaf?

Saya sering membaca dan mendengar laporan dari berbagai daerah. Berdasarkan laporan yang dikupas oleh RSCC (Ratna Sarumpaet Crisis Centre), tindakan FPI telah mencakup berbagai hal. Memang ada beberapa hal yang baik, tetapi didominasi oleh tindakan semena-mena, seolah merekalah yang paling benar, yang paling kuat, yang paling berpengaruh.

Saya kira, FPI telah menjadi Public Enemy. FPI adalah musuh bersama. Sebaiknya FPI bercermin dahulu, evaluasi kembali tindakan-tindakan yang telah mereka lakukan kepada masyarakat. Rasanya mustahil jika FPI dibubarkan karena pihak luar, saran saya ada adalah sebaiknya FPI membubarkan diri terlebih dulu. Ga jadi “neraka” dan “kiamat” kan jika FPI bubar dulu sementara? Bercermin diri dulu, ikut pengajian lagi, belajar lagi tentang hak-hak kita sebagai warga negara, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh warga negara, bagaimana mengekspresikan pendapat dan menyampaikan pendapat di muka umum (bukan asal siram air jika lawan debat tidak setuju), dan yang paling penting adalah : EVALUASI SEBERAPA BANYAK FPI TELAH MENYAKITI ORANG LAIN.

Dalam setiap kasus FPI yang terjadi, POLISI dalam hal ini juga BERMASALAH. Polisi seringkali tunduk, tidak berdaya, takut karena ancaman dan banyaknya massa FPI hanya karena FPI membawa-bawa nama agama. Sebentar lagi pemilu 2014. Dan jika tulisan saya masih dibaca sesudah terpilihnya presiden Indonesia yang baru (Prabowo atau Jokowi), semoga presiden terpilih kelaknya dapat dengan TEGAS memberantas ormas-ormas yang sering menimbulkan huru-hara, tidak seperti presiden SBY kita. Seandainya SBY MEMILIKI “AKAL SEHAT” sedikit saja, seharusnya dia tahu jika hal seperti ini adalah suatu masalah besar dan FPI HARUS DIBUBARKAN! Tidak harus menunggu Undang-undang. Masa’ ada masalah di negara ini, dia malah menunggu buat Undang-undang dulu, rapat dulu, kumpul-kumpul dengan DPR ini itu segala macam, sementara masalahnya sudah membesar dan semakin meluas.

Mengerikan bukan? Ya, sungguh mengerikan. Sebenarnya FPI itu minoritas karena tidak semua muslim di Indonesia tergabung dalam FPI, tetapi mereka berusaha menjadi mayoritas dengan mengajak setiap muslim agar bergabung dengan FPI, dan terjadilah “cuci otak” dalam pembauran ini sehingga massa FPI selalu bertambah dari waktu ke waktu. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya sama sekali tidak membenci Islam. ISLAM ITU INDAH. Banyak tokoh muslim yang saya kagumi di negeri ini. Mulai dari pendiri bangsa kita Bung Karno dan Bung Hatta, Ibu Sri Mulyani yang saat ini menjabat sebagai Managing Director di World Bank, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebut semuanya di sini. Mereka adalah orang-orang hebat beragama Muslim yang ramah. Tetapi entah kenapa masyarakat di Indonesia sudah mengganggap Islam itu seperti teroris. Bahkan di kota saya (Medan), beberapa teman yang non-muslim jika melihat orang muslim mengenakan baju putih, sorban putih dengan jenggotnya yang khas pasti “menghindar” dan merasa was-was. Saya sering mendapati mereka naik sepeda motor tanpa menggunakan helm. Bahkan orang yang diboncengnya pun tidak menggunakan helm, tetapi aparat kepolisian sepertinya takut untuk menindak tegas orang-orang seperti itu.

Sebagai penutup, saya hanya ingin menyampaikan bagi Anda semua yang membaca tulisan ini untuk MEMBUKA MATA, BUKA HATI, BUKA PIKIRAN. Kita hidup di tanah yang sama, tanah Indonesia. Jika bukan Anda dan saya yang peduli, lantas siapa lagi? Apakah hal semena-mena seperti ini akan dibiarkan begitu saja? Apakah kita hanya akan menonton saja, sementara mereka dengan seenaknya mengatur negeri ini. Mereka seolah-olah bisa menentukan buku mana yang boleh dibaca, film mana yang boleh ditonton, diskusi mana yang boleh berjalan, konser apa yang boleh diselenggarakan, ibadah dan gereja mana yang boleh dengan nyaman menjalankan ibadahnya . INI SUNGGUH MENGERIKAN. Sekali lagi, saya TIDAK membenci Islam, tetapi tindakan FPI sudah melewati ambang batas dantelah mengubah opini masyarakat yang non-muslim untuk mengganggap semua muslim itu “JELEK”. Bagi Anda yang terlahir di keluarga muslim dan sampai saat ini masih setia dengan Islam, tentu tidak bisa terima dan berpikir jika pernyataan saya ini sesat, berbau SARA, atau barangkali penghinaan dan penistaan terhadap agama. Yang saya tahu, bahwa Islam itu INDAH. Tetapi jangan sampai hanya karena tindakan sekelompok kecil ormas yang mengatasnamakan Islam, lantas semua Islam kena getahnya. Jika kondisi ini masih dibiarkan terus menerus dan tidak ada yang peduli, maka ketahuilah :

islam

 

Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menghina Islam, bukan untuk memojokkan agama tertentu. Ini hanyalah pemikiran saya, opini saya berdasarkan apa yang saya lihat dan baca di TV, internet, youtube, media massa. Akhir kata, semoga kita bisa menjadi warga negara yang baik, yang saling menghormati dan menghargai orang lain. Dengan bisa menghargai dan menghormati hak dan keragaman inilah semua tindakan kekerasan dan bentrokan bisa kita hindari.

Terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

About Administrator W.L
Seorang yang selalu ingin belajar hal-hal baru dan menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: