Ledakan Penduduk

Penduduk dunia saat ini mencapai lebih dari 6 miliar jiwa. Pada saat Anda selesai membaca paragraf ini telah terlahir kurang lebih 15 bayi ke dunia ini. Jadi, jangan kaget bila penduduk dunia pada tahun 2050 diperkirakan berjumlah 9 miliar.

Setiap hari, banyak bayi lahir tetapi banyak pula yang meninggal. Kelahiran dan kematian adalah dua faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk. Sebelum abad XVIII, penduduk dunia tumbuh sangat lambat. Dari tahun 1750 sampai awal 1900, pertumbuhan penduduk dunia mulai meningkat cepat dan pada akhirnya sangat cepat. Peningkatan penduduk dunia yang cepat dan tiba-tiba disebut ledakan penduduk.

Ledakan penduduk dunia pada tahun 1900 terutama disebabkan oleh peningkatan jumlah kelahiran dan penurunan jumlah kematian. Pada masa lalu, banyak penduduk mati karena perang, kelaparan, dan penyakit. Keadaan kemudian berubah ketika kemajuan teknologi menghasilkan pemeliharaan kesehatan yang lebih baik, persediaan pangan meningkat, dan tingkat higienis yang semakin baik.

Keadaan yang menyenangkan ini mendorong penduduk hidup lebih lama dan bayi-bayi lahir dengan sehat. Akibatnya, jumlah kelahiran melebihi jumlah kematian, sehingga jumlah penduduk dunia semakin meningkat pesat. Saat ini penduduk dunia terus tumbuh dan pertumbuhan cepat terjadi di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan.

Dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya diprediksi menghadapi peningkatan jumlah penduduk sebesar 57% dan 47% dalam 50 tahun ke depan. Hal ini berarti akan terjadi lonjakan jumlah penduduk dunia. Berdasarkan data penduduk dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diperkirakan penduduk dunia pada tahun 2050 berjumlah 9,6 miliar jiwa atau meningkat 3,5 miliar jiwa dari 6,1 miliar jiwa pada tahun 2000. Sedang penduduk Indonesia bertambah sebesar 98 juta jiwa dari 206,2 juta jiwa tahun 2000 menjadi 303,8 juta jiwa pada tahun 2050.

Sampai saat ini piramida penduduk dunia berbentuk limas atau kelompok umur muda karena hampir separuh (50%) jumlah penduduk dunia berumur ≤ 19 tahun dan hanya kurang dari 5% berumur > 65 tahun. Komposisi ini akan berubah drastis dalam 50 tahun ke depan. Penduduk umur ≤ 19 tahun tinggal 24% dan penduduk ≥ 65 tahun atau lanjut usia (lansia) bertambah menjadi 15%.

Perubahan komposisi penduduk yang serupa juga terjadi di Indonesia. Selama 50 tahun ke depan, penduduk umur ≤ 34 tahun jumlahnya bertambah 4%, penduduk umur 35-64 tahun jumlahnya naik 96%. Peningkatan paling tajam terjadi pada penduduk umur ≥ 65 tahun yaitu 504% selama 50 tahun mendatang.

Agar Anda lebih mudah memahami ledakan jumlah penduduk dunia dan Indonesia serta perubahan komposisinya dalam selang waktu 50 tahun, perhatikan tabel berikut ini.

Tabel 1
Jumlah penduduk dunia dan Indonesia dalam jangka waktu 50 tahun (2000 dan 2050).

Tabel 2
Jumlah penduduk Indonesia menurut kelompok umur dalam jangka waktu 50 tahun

Kira-kira 100 abad lalu (10.000 tahun lalu), jumlah penduduk dunia hanya 8 juta jiwa. Pada tahun pertama Masehi, jumlah penduduk dunia meningkat menjadi 300 juta jiwa. Jumlah ini berlipat dia menjadi 600 juta jiwa pada abad XVII. Ledakan penduduk dunia dimulai sejak abad XIX. Pada tahun1850, penduduk dunia meningkat pesat dengan jumlah 1 miliar jiwa dan menjadi 2 miliar jiwa pada tahun 1930. Berarti hanya dalam selang waktu 80 tahun jumlahnya berlipat dua.

Salah satu penyebab utama ledakan penduduk dunia adalah peningkatan harapan hidup. Harapan hidup penduduk dimulai abad XVII hanya mencapai 40 tahun. Sedang dalam beberapa abad terakhir rata-rata harapan hidup penduduk dunia mencapai 63 tahun. Hal ini disebabkan oleh penemuan-penemuan baru di bidang kedokteran dan usaha-usaha perbaikan keadaan hidup.

Ledakan penduduk dunia terutama diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang besar di negara-negara sedang berkembang. Di negara-negara ini usaha perbaikan kesehatan, sanitasi, dan nutrisi penduduk belum diimbangi oleh penurunan jumlah penduduk seperti yang telah terjadi di banyak negara industri.

Advertisements

Bagaimana Kualitas Penduduk Indonesia?

Bagaimana kualitas penduduk Indonesia? Secara spontan kita pasti akan mengatakan bahwa kualitas penduduk Indonesia masih tergolong rendah. Kualitas penduduk dicerminkan dari tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan tingkat kesehatan.

a.   Tingkat Pendapatan

Pendapatan penduduk Indonesia walaupun mengalami peningkatan tetapi masih tergolong rendah dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Perhatikan tabel berikut ini.

Pendapatan Per Kapita Beberapa Negara Tahun 2010
No. Negara Pendapatan Per Kapita (US $)
1. Amerika Serikat 47.140
2. Australia 43.740
3. Jepang 42.150
4. Malaysia 7.900
5. Singapura 40.920
6. Indonesia 2.580
7. Thailand 4.210
8. Filipina 2.050
9. Inggris 38.540
10. Korea Selatan 19.890

Dengan pendapatan per kapita yang masih rendah berakibat penduduk tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga sulit mencapai kesejahteraan. Rendahnya pendapatan per kapita penduduk di Indonesia terutama disebabkan oleh :

  1. Pendapatan nasional yang masih rendah. Hal ini disebabkan sumber daya alam yang dimiliki belum sepenuhnya dikelola dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
  2. Jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan penduduk yang tinggi tiap tahunnya.
  3. Masih rendahnya penguasaan teknologi oleh penduduk sehingga pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam kurang optimal.

b.   Tingkat Pendidikan

Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan penduduk melalui berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, seperti program beasiswa, adanya bantuan operasional sekolah (BOS), program wajib belajar, dan sebagainya. Walaupun demikian, karena banyaknya hambatan yang dialami, maka hingga saat ini tingkat pendidikan bangsa Indonesia masih tergolong rendah.

Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia sebagai berikut :

  1. Rendahnya pendapatan per kapita penduduk, menyebabkan orang tua tidak mampu membiayai anaknya sekolah, sehingga banyak anak yang putus sekolah atau berhenti sekolah sebelum tamat.
  2. Ketidakseimbangan antara jumlah murid dengan sarana pendidikan yang ada seperti kelas, guru, dan buku-buku pelajaran. Hal ini menyebabkan tidak semua anak usia sekolah tertampung belajar di sekolah, terutama di daerah pelosok dan terpencil yang sulit dijangkau program pemerintah.
  3. Masih kurangnya kesadaran penduduk terhadap pentingnya pendidikan, sehingga anak tidak disekolahkan tetapi justru diarahkan untuk bekerja membantu memenuhi ekonomi keluarga.

c.   Tingkat Kesehatan

Tingkat kesehatan penduduk merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilan pembangunan. Tingkat kesehatan suatu negara dapat dilihat dari besarnya angka kematian bayi dan usia harapan hidup penduduknya.

Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian bayi dan angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju. Rendahnya kualitas kesehatan penduduk umumnya disebabkan oleh :

  1. Lingkungan yang tidak sehat.
  2. Gejala kekurangan gizi yang sering dialami penduduk.
  3. Penyakit menular yang sering terjangkit.
  4. Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.